Review Honda Mesin CR-V Facelift 2.4 Prestige
Tuesday, October 23, 2018
Add Comment
Honda CR-V ialah salah satu SUV unggulan di Indonesia, terlebih untuk generasi ketiga yang mirip kura-kura, penjualan mobil hal yang demikian ternyata menjadi pemimpin di kelasnya dan tak tegoyahkan selama bertahun-tahun. Penulispun juga menjadi salah satu konsumen Honda CR-V 2.4 pada masa itu.
Segera setelah generasi ketiga terasa cukup membosankan dan waktunya berganti model, Honda CR-V generasi keempat ini diluncurkan. Sayangnya generasi keempat ini tak sesukses generasi ketiga dari segi penjualan. Mobil hal yang demikian juga kurang bersaing mulai dari bentuk eksterior, interior serta fitur yang ditawarkan. Di awal tahun 2015 silam, hasilnya Honda CR-V berbenah dan menerima banyak fitur baru, apakah mobil ini dapat menebus kelemahan-kelemahan model sebelum facelift? Mari kita simak!
Mengajak mobil ini berakselerasi, rasa akselerasinya tak spektakuler menurut kami untuk seukuran mesin 2.400 cc. Cepat sih, tapi tak sehebat di spesifikasi. Karakter mesin mobil ini cenderung bertenaga di putaran atas banget, tapi lemah di putaran bawah, terlebih di Rpm 3.000 kebawah, malahan menurut kami CR-V generasi keempat ini lebih lemah diperbandingkan CR-V generasi ketiga.
Segera kenapa tak begitu spektakuler? Pasti sebab daya puncak dari mesin 2.400 cc Honda CR-V berada di Rpm 7.000, dimana Rpm 7.000 ialah spot puncak putaran mesin sebelum redline. Jadi ketika meraba daya puncak, eh kita segera diperintah ganti gigi. Sama aja dusta!
Torsinya juga berada di putaran yang tinggi dengan 4.400 Rpm, mungkin dari paduan daya dan torsi yang diperoleh di putaran atas ini, daya Honda CR-V jadi terasa lazim saja diterapkan untuk berakselerasi. Konsumsi BBMnya malahan masih terasa sama borosnya seperti model lama walaupun sedikit lebih irit diperbandingkan dengan Nissan X-Trail yang menerapkan transmisi CVT.
Ngomong-ngomong soal CVT, Honda CR-V sangat mujur tak menerapkan transmisi macam ini. Ia masih menerapkan transmisi 5 percepatan automatic yang sama seperti CR-V generasi ketiga komplit dengan paddle shifter, rasa transmisinya cenderung lazim saja, terasa seperti transmisi otomatis jadul 4 percepatan ditambah 1, untungnya ada paddle shift yang menolongnya.
Oke, stop sampai disini urusan mesin ye. Sekarang kita lanjut ke problem ride quality dan handling. CR-V generasi keempat punya karakter suspensi yang jauh berbeda dengan generasi ketiga, apabila dulu CR-V terasa terlalu stiff untuk mengoptimalkan handling, CR-V terbaru justru lebih empuk, malahan hampir sama empuknya dengan X-Trail.
Kami menyukai setir mobil ini yang presisi, ketika kami mau berbelok di kecepatan tinggi ataupun rendah, arah pergerakan mobil cocok dengan arah yang kita inginkan, tapi apabila bicara soal fun-to-drive? Hmmm� No. Berdasarkan kami mobil ini masih butuh improvement di soal pengaturan.
Segera setelah generasi ketiga terasa cukup membosankan dan waktunya berganti model, Honda CR-V generasi keempat ini diluncurkan. Sayangnya generasi keempat ini tak sesukses generasi ketiga dari segi penjualan. Mobil hal yang demikian juga kurang bersaing mulai dari bentuk eksterior, interior serta fitur yang ditawarkan. Di awal tahun 2015 silam, hasilnya Honda CR-V berbenah dan menerima banyak fitur baru, apakah mobil ini dapat menebus kelemahan-kelemahan model sebelum facelift? Mari kita simak!
Mengajak mobil ini berakselerasi, rasa akselerasinya tak spektakuler menurut kami untuk seukuran mesin 2.400 cc. Cepat sih, tapi tak sehebat di spesifikasi. Karakter mesin mobil ini cenderung bertenaga di putaran atas banget, tapi lemah di putaran bawah, terlebih di Rpm 3.000 kebawah, malahan menurut kami CR-V generasi keempat ini lebih lemah diperbandingkan CR-V generasi ketiga.
Segera kenapa tak begitu spektakuler? Pasti sebab daya puncak dari mesin 2.400 cc Honda CR-V berada di Rpm 7.000, dimana Rpm 7.000 ialah spot puncak putaran mesin sebelum redline. Jadi ketika meraba daya puncak, eh kita segera diperintah ganti gigi. Sama aja dusta!
Torsinya juga berada di putaran yang tinggi dengan 4.400 Rpm, mungkin dari paduan daya dan torsi yang diperoleh di putaran atas ini, daya Honda CR-V jadi terasa lazim saja diterapkan untuk berakselerasi. Konsumsi BBMnya malahan masih terasa sama borosnya seperti model lama walaupun sedikit lebih irit diperbandingkan dengan Nissan X-Trail yang menerapkan transmisi CVT.
Ngomong-ngomong soal CVT, Honda CR-V sangat mujur tak menerapkan transmisi macam ini. Ia masih menerapkan transmisi 5 percepatan automatic yang sama seperti CR-V generasi ketiga komplit dengan paddle shifter, rasa transmisinya cenderung lazim saja, terasa seperti transmisi otomatis jadul 4 percepatan ditambah 1, untungnya ada paddle shift yang menolongnya.
Oke, stop sampai disini urusan mesin ye. Sekarang kita lanjut ke problem ride quality dan handling. CR-V generasi keempat punya karakter suspensi yang jauh berbeda dengan generasi ketiga, apabila dulu CR-V terasa terlalu stiff untuk mengoptimalkan handling, CR-V terbaru justru lebih empuk, malahan hampir sama empuknya dengan X-Trail.
Kami menyukai setir mobil ini yang presisi, ketika kami mau berbelok di kecepatan tinggi ataupun rendah, arah pergerakan mobil cocok dengan arah yang kita inginkan, tapi apabila bicara soal fun-to-drive? Hmmm� No. Berdasarkan kami mobil ini masih butuh improvement di soal pengaturan.


0 Response to "Review Honda Mesin CR-V Facelift 2.4 Prestige"
Post a Comment